Recent Posts

23 December 2015

Menikmati Hafalan dalam Jamuan Murojaah dan Qiyamullail

Dalam proses menghafal Qur’an, yang paling prinsip adalah lurusnya niat dan kekuatan ruhiah yang menopangnya. Namun secara ikhtiari kita juga harus menyiapkan perencanaan yang jelas untuk menggapai cita-cita menjadi seorang “Penjaga Qur’an”.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr : 18)

Salah satu proses untuk memiliki hafalan Al Qur’an yang mutqin adalah  

memiliki program tilawah, ziyadah dan murojaah yang teratur 


Hal  ini patut difahami, agar tidak hanya berhenti sebatas menyelesaikan setoran 30 juz. Tilawah berfungsi untuk mengakrabkan dan melakukan percepatan pertemuan dengan ayat yang sedang dihafal. Sedangkan murojaah yang teratur dan terstruktur berfungsi agar hafalan tidak cepat hilang dan agar kita makin merasakan kenikmatan memiliki hafalan – seberapapun banyaknya hafalan kita – serta menghindari kejenuhan, rasa letih dan futur dalam menghafal Al Qur’an.

Di antara proses murojaah yang paling efektif adalah menggunakan hafalan yang kita miliki dalam Qiyamullail dan Yaumul Qur’an pribadi, sehingga seiring bertambahnya hafalan, maka semakin nikmat Qiyamullail kita dan semakin rindu untuk selalu bersama Qur’an.

Sulit rasanya memiliki hafalan yang mutqin dan mampu menikmati hafalannya, jika seorang santri/santriwati penghafal Al Qur’an terlalu banyak tidur, layaknya orang yang tidak menghafal Kalam-Nya. Ini pernah diungkapkan  Imam Ibnu Mas’ud ra.,  

“Seorang penghafal Al Qur’an harus dikenal dengan malamnya saat manusia tidur, dan dengan siangnya saat manusia sedang tertawa, dengan diamnya saat manusia berbicara dan dengan khusyu nya saat manusia gelisah”.
Berdasarkan pengalaman penulis selama ini dalam membimbing program tahfizh Al Qur’an, secara umum biasanya para santri/santriwati peserta program tahfizh Al Qur’an mampu menyelesaikan hafalan 30 juz (ingat, belum termasuk murojaahnya) dalam rentang waktu 3 tahun. Ini adalah rata-rata waktu yang mampu dicapai oleh peserta tahfizh yang “non takhosus”. Biasanya mereka adalah para pelajar atau mahasiswa, yang ingin menghafal Qur’an tanpa harus mengabaikan aktivitas belajar/kuliah di kampusnya.
Jika target yang ditentukan adalah selesai ziyadah 30 Juz dalam waktu 3 tahun, maka pola yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Ziyadah atau menambah Hafalan 1 Juz/bulan
Untuk mencapai target ini, maka bisa melakukan upaya :

1.1. Menambah hafalan baru 1 pojok atau 1 halaman per hari

1.2. Tentukan waktu khusus dalam 1 hari untuk manambah hafalan Al Qur’an (misalnya sebelum atau  sesudah   Qiyamullail,  ba’da shalat fardhu, atau waktu-waktu lainnya)

1.3. Jika sulit meluangkan waktu khusus, maka tambahlah hafalan baru setiap ba’da sholatsebanyak sekitar 3 baris dalam 1 pojok (tergantung panjang ayat atau sesuaikan dengan tempat waqaf bacaan kita sendiri).

1.4. Setiap hari sebelum tidur, ulang dulu/murojaah hafalan baru yang kita dapatkan sebanyak 20 kali (usahakan ditasmi’kan dengan lancar). Bisa minta bantuan keluarga, teman kost atau direkam untuk mengoreksinya.

2. Tilawah 3-5 Juz/hari

2.1. Tilawah 3-5 juz/hari adalah kebiasaan tilawah minimal yang harus dilaksanakan oleh seorang penghafal Qur’an. Ini bisa dilakukan sekali duduk ataupun bisa dicicil dengan melaksanakannya setiap ba’da shalat fardhu.

2.2. Secara bertahap, kuantitas tilawah harus terus ditingkatkan, dari mulai 1 juz/hari dicicil menjadi 1 juz/hari sekali duduk. Lalu bertahap menjadi 2 juz/hari, 3 juz/hari sampai 5 juz/hari.Standarnya adalah tilawah 3 juz/hari sekali duduk, dan idealnya adalah 5 juz/hari.

3. Murojaah

3.1. Gunakan hafalan baru hasil ziyadah di hari tersebut dalam Qiyamullail. Untuk akhwat yang sedang haidh harus tetap  bangun  dan murojaah untuk menjaga iltizam dan menjaga metabolisme tubuh agar tetap terbiasa bangun malam. UraianContoh Program Qiyamullailnya adalah sbb:
  • Hari ke-1, tiap rakaat membaca 1 pojok  ziyadah baru
  • Hari ke-2, rakaat ganjil membaca ziyadah pojok baru dan rakaat genap murojaah hafalan lama
  • Hari ke-3, rakaat ke-1 membaca ziyadah pojok baru, rakaat ke-2 murojaah hafalan hari ke-1 dan rakaat ke-3 murojaah hafalan hari ke-2. Gunakan pola tersebut ke rakaat berikutnya
  • Hari ke-4, rakaat ke-1 membaca ziyadah pojok baru, rakaat ke-2 sampai 4 murojaah hafalan lama. Sholat witir gunakan seluruh hafalan yang sudah kita miliki (4 halaman)
  • Hari ke-5, rakaat ke-1 sampai ke-4 membaca ziyadah pojok baru, rakaat 5-8 murojaah hafalan lama (tiap rakaat 1 halaman)
  • Hari ke-6, rakaat ke-1 sampai ke-4 membaca ziyadah pojok baru, rakaat 5-8 murojaah hafalan lama (total 5 halaman)
  • Hari ke-7, rakaat ke-1 sampai ke-4 membaca ziyadah pojok baru, rakaat 5-8 murojaah hafalan lama (total 6 halaman)
  • Begitu terus setiap hari, selalu memurojaah hafalan baru tanpa meninggalkan hafalan lama, selama rentang 1 bulan.
Jika kita konsisten dengan pola ini (atau bisa membuat pola sendiri), maka secara bertahap panjang Qiyamullail kita bertambah panjang setiap hari, sehingga tanpa terasa dalam rentang 1 bulan kita sudah mampu Qiyamullali sebanyak 1 juz.

Agar terjaga konsistensinya dan tidak merasa berat menjalankannya secara bertahap, mintalah selalu arahan dan bimbingan dari Muwajjih untuk membuat program Qiyamullail yang sesuai dengan perkembangan hafalan kita. Seorang muwajjih yang baik tentu akan membuat program Qiyamullail yang tidak sama persis antara satu santri dengan santri lainnya.

Secara bertahap, kita harus meningkatkan kuantitas hafalan dalam Qiyamullail dan secara bertahap pula meningkatkan kualitas Qiyamullailnya. Semakin banyak hafalan kita, maka seharusnya semakin panjang dan semakin nikmat pula Qiyamullail kita.

Betapa Qudwah kita, Rasulullah saw. telah memberi contoh tentang kenikmatan Qiyamullail yang berbanding lurus dengan kekuatan hafalan dan tadabburnya. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Huzaifah ra. bahwa ia berkata,   
“Aku pernah mengerjakan shalat bersama Nabi saw. pada suatu malam. Beliau membuka rakaat dengan bacaan surat Al Baqarah, dan baru ruku  kira-kira pada ayat keseratus. Beliau melanjutkan shalatnya, kemudian membaca lanjutan surat Al Baqarah pada satu rakaat berikutnya hingga selesai, baru kemudian rukuk. Pada rakaat berikutnya beliau membaca surat An Nisaa hingga selesai, dan dilanjutkan dengan membaca surat Ali Imran secara perlahan hingga selesai pula. Jika melewati ayat yang berisi tasbih, beliau pun bertasbih, jika melewati ayat tentang permohonan beliau pun memohon, dan jika melewati ayat tentang perlindungan maka beliau pun memohon perlindungan. Sesudah itu, beliau pun rukuk dan membaca, Subhaana Robbiyal  ‘Azhiim (Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung).” Lama rukuk beliau kurang lebih sama dengan lamanya berdiri. Sesudah itu, beliau mengucapkan, “Sami ‘Allohu liman hamidah (Alloh Maha Mendengar orang yang memuji-Nya).” Sesudah itu, beliau berdiri lagi cukup lama, kurang lebih hampir sama dengan waktu rukuk. Selanjutnya, beliau bersujud dan membaca “Subhana Robbiyal A’laa (Maha Suci Alloh Yang Maha Tinggi).” (HR. Abu Dawud).
Silakan hitung berapa juz total Qiyamullail yang dilakukan Nabi saw. pada malam tersebut.
Abdullah bin Rawahah ra. berkata tentang Rasulullah saw,  

 “Beliau tidur malam (hanya sebentar), lambungnya jauh dari tempat tidurnya. Walaupun sebenarnya bagi orang-orang musyrik meninggalkan tempat tidur itu sangat berat.” (HR.  Bukhari).
Jadi, sudah jelas bahwa seorang penghafal Al Qur’an yang terlalu banyak tidur, pada hakikatnya belum merasakan kenikmatan menghafal Al Qur’an dan belum merasakan kenikmatan hafalan Al Qur’an di dalam dadanya.

3.2. Jika sudah memiliki hafalan sekitar 1-3 juz, maka biasakan memiliki jadwal Yaumul Qur’an mingguan, misalnya di akhir pekan untuk mentasmi’kan hafalan yang dimiliki (diluar jadwal qiyamullail). Biasanya waktu yang dibutuhkan sekitar 2.5 jam non stop.
Agar kita fokus hanya untuk berta’amul ma’al Qur’an saat Yaumul Qur’an, maka disarankan untuk mematikan semua alat komunikasi dan tidak melakukan aktivitas apapun kecuali hanya bersama Al Qur’an (kecuali saat shalat, makan dan membuang hajat).

3.3. Jika sudah memiliki hafalan sekitar 4-10 juz, maka biasakanlah memiliki jadwal Yaumul Qur’an bulanan untuk mentasmi’kan hafalan yang dimiliki.

3.4. Jika sudah menyelesaikan setoran hafalan 30 juz, maka biasakanlah memiliki Yaumul Qur’an 2 kali dalam setahun. Yaumul Qur’an pada 6 bulan pertama biasanya dilaakukan sendirian, dimana pada hari tersebut aktivitas kita hanya murojaah seluruh hafalan yang kita miliki. Jika dimulai ba’da subuh maka sampai isya biasanya sudah beres murojaah antara 15-20 juz (tergantung kelancaran hafalan kita dan tingkatan bacaannya). Lalu disambung murojaahnya dalam qiyamullail (sekitar 5 juz), dan sisanya dituntaskan kembali sampai sebelum zhuhur. Berdasarkan pengalaman, biasanya untuk murojaah 30 juz butuh waktu 2 hari 1 malam, jika hafalan lancar. Bahkan masih memungkinkan untuk kita mentadabburi beberapa juz atau surat atau pojok atau ayat yang sudah kita hafal.

Yaumul Qur’an 6 bulan yang kedua, biasanya dilakukan bersama guru kita. Artinya ini adalah periode untuk mencek ulang seluruh hafalan kita di hadapan guru. Karena itu, kita harus mengalokasikan waktu khusus dan menyesuaikan dengan waktu yang dimiliki oleh guru kita. Biasanya guru kita akan mengalokasikan waktu sekitar bulan rajab, sya’ban atau bahkan ramadhan, dan kita harus siap “mengejar dan mendatangi” dimana guru kita berada.

Itulah sebenarnya esensi menghafal Al Qur’an, bukan untuk dibanggakan di hadapan manusia, tetapi untuk dinikmati dalam Qiyamullail, menikmatinya dalam muroja’ah, merasakan keagungan kalam Alloh saat tadabbur. Semakin sering muroja’ah, semakin terasa kenikmatannya, semakin kuat hafalannya dan semakin meningkat kualitas Qiyamullailnya.
Jadi, mari kita nikmati hafalan kita, kita nikmati jadwal bertemu guru untuk ziyadah dan murojaah, kita nikmati seluruh prosesnya walau harus mengulang, mengulang dan mengulang. Tak ada sedikitpun kerugian dari proses pengulangan tersebut karena semakin sering diulang makin banyak keberkahan yang didapatkan, makin akrab ayat yang dihafal dan terasa nikmat saat sudah hafal.
Dan lebih nikmat lagi saat kita mentadabburinya dalam Qiyamullail, sehingga terbangun motivasi untuk mengamalkannya….
“Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabb-mu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (QS. Al Muzzammil: 1-8)
Dikutip dari http://1hariitu24jam.wordpress.com
Oleh : Ust. Suherman

Ya Allaah semoga saya dan semua anggota keluarga bisa melaksanakannya dan selalu istiqomah aamiin allahumma aamiin..

22 December 2015

Bismillaah.. saya akan jadi penghafal Al Qur’an, in syaa Allaah…

Sebenarnya malu banget kalau mau cerita tentang hafalan Al Qur’an saya.. rasanya mau krukupan panci aja, atau lari yang jauh sekalian :D Tapi.. buat apa malu kalau cuma malu tapi ga nambah-nambah hafalannya? Sepahit apapun harus saya akui, di umur saya yang hampir kepala 3 ini saya masih belum hafal juz 30 keseluruhan. Kalau dipancing-pancing in syaa Allaah masih bisa nerusin ayat, tapi belum keseluruhan ayat di juz 30 saya hafal. Ya Allaah… kemana saja saya selama hampir 30 tahun ini?? Ngapain aja selama hampir 30 tahun ini?? :( :( :(

Niat untuk menghafal Al Qur’an sebenarnya sangat kuat dalam diri saya, tapiii.. gampang goyah sama godaan dan kendala yang terjadi di lapangan. Apalagi buat ibu rumah tangga beranak 3 seperti saya ini. Rasanya hampir ga ada waktu buat menghafal, rasanya waktu saya habis untuk menyelesaikan pekerjaan domestik saja. Ini yang harus saya perbaiki, management waktu! Memang istiqomah itu tidaklah mudah, tapi bukan tidak mungkin kan? Sengaja memang bikin tulisan ini, biar memacu semangat saya.. Kalau mulai malas bisa kembali lagi ke jalur yang benar :) Kemarin saya sedikit tertohok dengan Hadist ini:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Surga itu diliputi dengan hal2 yang tidak menyenangkan, dan neraka itu diliputi hal2 yang menyenangkan.”
(HR. Muslim IV/2174 no.2822, At-Tirmidzi IV/693 no.2559, dan Ahmad III/284 no.14062)
Maksud sabda Nabi (neraka itu diliputi oleh hal2 yg menyenangkan) ialah bahwa jalan menuju neraka itu dipenuhi dengan hal-hal yang disukai oleh jiwa manusia yaitu berupa dosa-dosa dan maksiat seperti zina, riba, korupsi, mengurangi takaran dan timbangan, menggunjing orang lain, meninggalkan sholat, puasa, zakat dan kewajiban2 lainnya. Semuanya itu sangat disukai jiwa manusia karena sesuai dengan nafsu syahwatnya. Oleh karenanya, ketika seorang hamba melakukan hal2 itu semua demi mengikuti hawa nafsu dan menyenangkan jiwanya, maka ia pun terancam utk masuk ke dalam api Neraka.

Sedangkan sabda Nabi (surga itu dikelilingi oleh hal2 yg tidak menyenangkan) maksudnya ialah bahwa jalan menuju surga itu dipenuhi dengan rintangan-rintangan dan amalan-amalan yang tidak disukai oleh jiwa manusia karena bertentangan dengan hawa nafsu. Seperti perintah mendirikan sholat 5 waktu, menunaikan zakat mal, puasa romadhon, berjihad di jalan Allah, kewajiban menuntut ilmu agama, menutup aurat, meninggalkan zina, judi, mabuk, korupsi, riba, dan dosa2 lainnya. Semuanya itu terasa sangat berat bagi jiwa manusia. Sehingga tatkala seorang hamba bersabar dan istiqomah dlm menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya yg mana terasa sangat berat bagi jiwanya dan bertentangan dengan keinginan hawa nafsunya, maka ia dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk masuk Surga yg penuh dengan kenikmatan yg kekal nan abadi.

Ya.. jalan menuju surga itu tidaklah mudah, tapi bukan tidak mungkin untuk kita bisa meraihnya. Semoga Allaah mudahkan, semoga Allaah istiqomahkan aamiin yaa robbal allaamiin…
Mulai saat ini saya azzamkan dalam diri bahwa saya akan menjadi penghafal Al Qur’an Bismillaah..

23 December 2015

Menikmati Hafalan dalam Jamuan Murojaah dan Qiyamullail

0 comments
Dalam proses menghafal Qur’an, yang paling prinsip adalah lurusnya niat dan kekuatan ruhiah yang menopangnya. Namun secara ikhtiari kita juga harus menyiapkan perencanaan yang jelas untuk menggapai cita-cita menjadi seorang “Penjaga Qur’an”.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr : 18)

Salah satu proses untuk memiliki hafalan Al Qur’an yang mutqin adalah  

memiliki program tilawah, ziyadah dan murojaah yang teratur 


Hal  ini patut difahami, agar tidak hanya berhenti sebatas menyelesaikan setoran 30 juz. Tilawah berfungsi untuk mengakrabkan dan melakukan percepatan pertemuan dengan ayat yang sedang dihafal. Sedangkan murojaah yang teratur dan terstruktur berfungsi agar hafalan tidak cepat hilang dan agar kita makin merasakan kenikmatan memiliki hafalan – seberapapun banyaknya hafalan kita – serta menghindari kejenuhan, rasa letih dan futur dalam menghafal Al Qur’an.

Di antara proses murojaah yang paling efektif adalah menggunakan hafalan yang kita miliki dalam Qiyamullail dan Yaumul Qur’an pribadi, sehingga seiring bertambahnya hafalan, maka semakin nikmat Qiyamullail kita dan semakin rindu untuk selalu bersama Qur’an.

Sulit rasanya memiliki hafalan yang mutqin dan mampu menikmati hafalannya, jika seorang santri/santriwati penghafal Al Qur’an terlalu banyak tidur, layaknya orang yang tidak menghafal Kalam-Nya. Ini pernah diungkapkan  Imam Ibnu Mas’ud ra.,  

“Seorang penghafal Al Qur’an harus dikenal dengan malamnya saat manusia tidur, dan dengan siangnya saat manusia sedang tertawa, dengan diamnya saat manusia berbicara dan dengan khusyu nya saat manusia gelisah”.
Berdasarkan pengalaman penulis selama ini dalam membimbing program tahfizh Al Qur’an, secara umum biasanya para santri/santriwati peserta program tahfizh Al Qur’an mampu menyelesaikan hafalan 30 juz (ingat, belum termasuk murojaahnya) dalam rentang waktu 3 tahun. Ini adalah rata-rata waktu yang mampu dicapai oleh peserta tahfizh yang “non takhosus”. Biasanya mereka adalah para pelajar atau mahasiswa, yang ingin menghafal Qur’an tanpa harus mengabaikan aktivitas belajar/kuliah di kampusnya.
Jika target yang ditentukan adalah selesai ziyadah 30 Juz dalam waktu 3 tahun, maka pola yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Ziyadah atau menambah Hafalan 1 Juz/bulan
Untuk mencapai target ini, maka bisa melakukan upaya :

1.1. Menambah hafalan baru 1 pojok atau 1 halaman per hari

1.2. Tentukan waktu khusus dalam 1 hari untuk manambah hafalan Al Qur’an (misalnya sebelum atau  sesudah   Qiyamullail,  ba’da shalat fardhu, atau waktu-waktu lainnya)

1.3. Jika sulit meluangkan waktu khusus, maka tambahlah hafalan baru setiap ba’da sholatsebanyak sekitar 3 baris dalam 1 pojok (tergantung panjang ayat atau sesuaikan dengan tempat waqaf bacaan kita sendiri).

1.4. Setiap hari sebelum tidur, ulang dulu/murojaah hafalan baru yang kita dapatkan sebanyak 20 kali (usahakan ditasmi’kan dengan lancar). Bisa minta bantuan keluarga, teman kost atau direkam untuk mengoreksinya.

2. Tilawah 3-5 Juz/hari

2.1. Tilawah 3-5 juz/hari adalah kebiasaan tilawah minimal yang harus dilaksanakan oleh seorang penghafal Qur’an. Ini bisa dilakukan sekali duduk ataupun bisa dicicil dengan melaksanakannya setiap ba’da shalat fardhu.

2.2. Secara bertahap, kuantitas tilawah harus terus ditingkatkan, dari mulai 1 juz/hari dicicil menjadi 1 juz/hari sekali duduk. Lalu bertahap menjadi 2 juz/hari, 3 juz/hari sampai 5 juz/hari.Standarnya adalah tilawah 3 juz/hari sekali duduk, dan idealnya adalah 5 juz/hari.

3. Murojaah

3.1. Gunakan hafalan baru hasil ziyadah di hari tersebut dalam Qiyamullail. Untuk akhwat yang sedang haidh harus tetap  bangun  dan murojaah untuk menjaga iltizam dan menjaga metabolisme tubuh agar tetap terbiasa bangun malam. UraianContoh Program Qiyamullailnya adalah sbb:
  • Hari ke-1, tiap rakaat membaca 1 pojok  ziyadah baru
  • Hari ke-2, rakaat ganjil membaca ziyadah pojok baru dan rakaat genap murojaah hafalan lama
  • Hari ke-3, rakaat ke-1 membaca ziyadah pojok baru, rakaat ke-2 murojaah hafalan hari ke-1 dan rakaat ke-3 murojaah hafalan hari ke-2. Gunakan pola tersebut ke rakaat berikutnya
  • Hari ke-4, rakaat ke-1 membaca ziyadah pojok baru, rakaat ke-2 sampai 4 murojaah hafalan lama. Sholat witir gunakan seluruh hafalan yang sudah kita miliki (4 halaman)
  • Hari ke-5, rakaat ke-1 sampai ke-4 membaca ziyadah pojok baru, rakaat 5-8 murojaah hafalan lama (tiap rakaat 1 halaman)
  • Hari ke-6, rakaat ke-1 sampai ke-4 membaca ziyadah pojok baru, rakaat 5-8 murojaah hafalan lama (total 5 halaman)
  • Hari ke-7, rakaat ke-1 sampai ke-4 membaca ziyadah pojok baru, rakaat 5-8 murojaah hafalan lama (total 6 halaman)
  • Begitu terus setiap hari, selalu memurojaah hafalan baru tanpa meninggalkan hafalan lama, selama rentang 1 bulan.
Jika kita konsisten dengan pola ini (atau bisa membuat pola sendiri), maka secara bertahap panjang Qiyamullail kita bertambah panjang setiap hari, sehingga tanpa terasa dalam rentang 1 bulan kita sudah mampu Qiyamullali sebanyak 1 juz.

Agar terjaga konsistensinya dan tidak merasa berat menjalankannya secara bertahap, mintalah selalu arahan dan bimbingan dari Muwajjih untuk membuat program Qiyamullail yang sesuai dengan perkembangan hafalan kita. Seorang muwajjih yang baik tentu akan membuat program Qiyamullail yang tidak sama persis antara satu santri dengan santri lainnya.

Secara bertahap, kita harus meningkatkan kuantitas hafalan dalam Qiyamullail dan secara bertahap pula meningkatkan kualitas Qiyamullailnya. Semakin banyak hafalan kita, maka seharusnya semakin panjang dan semakin nikmat pula Qiyamullail kita.

Betapa Qudwah kita, Rasulullah saw. telah memberi contoh tentang kenikmatan Qiyamullail yang berbanding lurus dengan kekuatan hafalan dan tadabburnya. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Huzaifah ra. bahwa ia berkata,   
“Aku pernah mengerjakan shalat bersama Nabi saw. pada suatu malam. Beliau membuka rakaat dengan bacaan surat Al Baqarah, dan baru ruku  kira-kira pada ayat keseratus. Beliau melanjutkan shalatnya, kemudian membaca lanjutan surat Al Baqarah pada satu rakaat berikutnya hingga selesai, baru kemudian rukuk. Pada rakaat berikutnya beliau membaca surat An Nisaa hingga selesai, dan dilanjutkan dengan membaca surat Ali Imran secara perlahan hingga selesai pula. Jika melewati ayat yang berisi tasbih, beliau pun bertasbih, jika melewati ayat tentang permohonan beliau pun memohon, dan jika melewati ayat tentang perlindungan maka beliau pun memohon perlindungan. Sesudah itu, beliau pun rukuk dan membaca, Subhaana Robbiyal  ‘Azhiim (Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung).” Lama rukuk beliau kurang lebih sama dengan lamanya berdiri. Sesudah itu, beliau mengucapkan, “Sami ‘Allohu liman hamidah (Alloh Maha Mendengar orang yang memuji-Nya).” Sesudah itu, beliau berdiri lagi cukup lama, kurang lebih hampir sama dengan waktu rukuk. Selanjutnya, beliau bersujud dan membaca “Subhana Robbiyal A’laa (Maha Suci Alloh Yang Maha Tinggi).” (HR. Abu Dawud).
Silakan hitung berapa juz total Qiyamullail yang dilakukan Nabi saw. pada malam tersebut.
Abdullah bin Rawahah ra. berkata tentang Rasulullah saw,  

 “Beliau tidur malam (hanya sebentar), lambungnya jauh dari tempat tidurnya. Walaupun sebenarnya bagi orang-orang musyrik meninggalkan tempat tidur itu sangat berat.” (HR.  Bukhari).
Jadi, sudah jelas bahwa seorang penghafal Al Qur’an yang terlalu banyak tidur, pada hakikatnya belum merasakan kenikmatan menghafal Al Qur’an dan belum merasakan kenikmatan hafalan Al Qur’an di dalam dadanya.

3.2. Jika sudah memiliki hafalan sekitar 1-3 juz, maka biasakan memiliki jadwal Yaumul Qur’an mingguan, misalnya di akhir pekan untuk mentasmi’kan hafalan yang dimiliki (diluar jadwal qiyamullail). Biasanya waktu yang dibutuhkan sekitar 2.5 jam non stop.
Agar kita fokus hanya untuk berta’amul ma’al Qur’an saat Yaumul Qur’an, maka disarankan untuk mematikan semua alat komunikasi dan tidak melakukan aktivitas apapun kecuali hanya bersama Al Qur’an (kecuali saat shalat, makan dan membuang hajat).

3.3. Jika sudah memiliki hafalan sekitar 4-10 juz, maka biasakanlah memiliki jadwal Yaumul Qur’an bulanan untuk mentasmi’kan hafalan yang dimiliki.

3.4. Jika sudah menyelesaikan setoran hafalan 30 juz, maka biasakanlah memiliki Yaumul Qur’an 2 kali dalam setahun. Yaumul Qur’an pada 6 bulan pertama biasanya dilaakukan sendirian, dimana pada hari tersebut aktivitas kita hanya murojaah seluruh hafalan yang kita miliki. Jika dimulai ba’da subuh maka sampai isya biasanya sudah beres murojaah antara 15-20 juz (tergantung kelancaran hafalan kita dan tingkatan bacaannya). Lalu disambung murojaahnya dalam qiyamullail (sekitar 5 juz), dan sisanya dituntaskan kembali sampai sebelum zhuhur. Berdasarkan pengalaman, biasanya untuk murojaah 30 juz butuh waktu 2 hari 1 malam, jika hafalan lancar. Bahkan masih memungkinkan untuk kita mentadabburi beberapa juz atau surat atau pojok atau ayat yang sudah kita hafal.

Yaumul Qur’an 6 bulan yang kedua, biasanya dilakukan bersama guru kita. Artinya ini adalah periode untuk mencek ulang seluruh hafalan kita di hadapan guru. Karena itu, kita harus mengalokasikan waktu khusus dan menyesuaikan dengan waktu yang dimiliki oleh guru kita. Biasanya guru kita akan mengalokasikan waktu sekitar bulan rajab, sya’ban atau bahkan ramadhan, dan kita harus siap “mengejar dan mendatangi” dimana guru kita berada.

Itulah sebenarnya esensi menghafal Al Qur’an, bukan untuk dibanggakan di hadapan manusia, tetapi untuk dinikmati dalam Qiyamullail, menikmatinya dalam muroja’ah, merasakan keagungan kalam Alloh saat tadabbur. Semakin sering muroja’ah, semakin terasa kenikmatannya, semakin kuat hafalannya dan semakin meningkat kualitas Qiyamullailnya.
Jadi, mari kita nikmati hafalan kita, kita nikmati jadwal bertemu guru untuk ziyadah dan murojaah, kita nikmati seluruh prosesnya walau harus mengulang, mengulang dan mengulang. Tak ada sedikitpun kerugian dari proses pengulangan tersebut karena semakin sering diulang makin banyak keberkahan yang didapatkan, makin akrab ayat yang dihafal dan terasa nikmat saat sudah hafal.
Dan lebih nikmat lagi saat kita mentadabburinya dalam Qiyamullail, sehingga terbangun motivasi untuk mengamalkannya….
“Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabb-mu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (QS. Al Muzzammil: 1-8)
Dikutip dari http://1hariitu24jam.wordpress.com
Oleh : Ust. Suherman

Ya Allaah semoga saya dan semua anggota keluarga bisa melaksanakannya dan selalu istiqomah aamiin allahumma aamiin..

22 December 2015

Bismillaah.. saya akan jadi penghafal Al Qur’an, in syaa Allaah…

0 comments
Sebenarnya malu banget kalau mau cerita tentang hafalan Al Qur’an saya.. rasanya mau krukupan panci aja, atau lari yang jauh sekalian :D Tapi.. buat apa malu kalau cuma malu tapi ga nambah-nambah hafalannya? Sepahit apapun harus saya akui, di umur saya yang hampir kepala 3 ini saya masih belum hafal juz 30 keseluruhan. Kalau dipancing-pancing in syaa Allaah masih bisa nerusin ayat, tapi belum keseluruhan ayat di juz 30 saya hafal. Ya Allaah… kemana saja saya selama hampir 30 tahun ini?? Ngapain aja selama hampir 30 tahun ini?? :( :( :(

Niat untuk menghafal Al Qur’an sebenarnya sangat kuat dalam diri saya, tapiii.. gampang goyah sama godaan dan kendala yang terjadi di lapangan. Apalagi buat ibu rumah tangga beranak 3 seperti saya ini. Rasanya hampir ga ada waktu buat menghafal, rasanya waktu saya habis untuk menyelesaikan pekerjaan domestik saja. Ini yang harus saya perbaiki, management waktu! Memang istiqomah itu tidaklah mudah, tapi bukan tidak mungkin kan? Sengaja memang bikin tulisan ini, biar memacu semangat saya.. Kalau mulai malas bisa kembali lagi ke jalur yang benar :) Kemarin saya sedikit tertohok dengan Hadist ini:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Surga itu diliputi dengan hal2 yang tidak menyenangkan, dan neraka itu diliputi hal2 yang menyenangkan.”
(HR. Muslim IV/2174 no.2822, At-Tirmidzi IV/693 no.2559, dan Ahmad III/284 no.14062)
Maksud sabda Nabi (neraka itu diliputi oleh hal2 yg menyenangkan) ialah bahwa jalan menuju neraka itu dipenuhi dengan hal-hal yang disukai oleh jiwa manusia yaitu berupa dosa-dosa dan maksiat seperti zina, riba, korupsi, mengurangi takaran dan timbangan, menggunjing orang lain, meninggalkan sholat, puasa, zakat dan kewajiban2 lainnya. Semuanya itu sangat disukai jiwa manusia karena sesuai dengan nafsu syahwatnya. Oleh karenanya, ketika seorang hamba melakukan hal2 itu semua demi mengikuti hawa nafsu dan menyenangkan jiwanya, maka ia pun terancam utk masuk ke dalam api Neraka.

Sedangkan sabda Nabi (surga itu dikelilingi oleh hal2 yg tidak menyenangkan) maksudnya ialah bahwa jalan menuju surga itu dipenuhi dengan rintangan-rintangan dan amalan-amalan yang tidak disukai oleh jiwa manusia karena bertentangan dengan hawa nafsu. Seperti perintah mendirikan sholat 5 waktu, menunaikan zakat mal, puasa romadhon, berjihad di jalan Allah, kewajiban menuntut ilmu agama, menutup aurat, meninggalkan zina, judi, mabuk, korupsi, riba, dan dosa2 lainnya. Semuanya itu terasa sangat berat bagi jiwa manusia. Sehingga tatkala seorang hamba bersabar dan istiqomah dlm menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya yg mana terasa sangat berat bagi jiwanya dan bertentangan dengan keinginan hawa nafsunya, maka ia dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk masuk Surga yg penuh dengan kenikmatan yg kekal nan abadi.

Ya.. jalan menuju surga itu tidaklah mudah, tapi bukan tidak mungkin untuk kita bisa meraihnya. Semoga Allaah mudahkan, semoga Allaah istiqomahkan aamiin yaa robbal allaamiin…
Mulai saat ini saya azzamkan dalam diri bahwa saya akan menjadi penghafal Al Qur’an Bismillaah..